Konon dahulu kala disebuah hutan di Kalimantan Timur, ada
sebuah kerajaan yang hanya dihuni ribuan burung enggang, masyarakat yang hanya
dihuni burung enggang ini hidup damai dan tentram dengan burung enggang paling
besar dan gagah adalah raja disini bernama Raja Emas Habang, karna warna tanduk
Raja burung enggang ini berwana emas dan habang atau merah menyala paduan warna
perak. Raja Emas Habang ini memerintah masyarakatnya dengan bijaksana, Raja ini
terkenal dermawan, tidak sombong, dan memiliki jiwa rela berkorban, dia rela
mati demi masyarakatnya jika suatu saat ada bahaya yang mengancam kerajaannya.
Raja Emas
Habang belum memiliki pendamping hidup. Suatu hari burung enggang betina
bernama Pinan berjualan buah-buahan di Kerajaan Emas Habang, dan raja itu
tertarik dengan Pinan. Raja mendekati Pinan dan sepertinya Pinan merespon
dengan baik. Masyarakat kerajaan pun sangat menyetujui hubungan mereka.
Sampai
akhirnya berita ini terdengar oleh Buaya dari desa Sangkima. Buaya ini terkenal
dengan sifat penguasanya di desa itu. Karna dia hewan paling besar di desa
tersebut. Buaya ini bernama Sang Tah, Sang tidak terima dengan berita yang
disampaikan oleh warga desa karena Sang sangat cinta dan dari dulu
mengejar-ngejar Pinan, tetapi Pinan tidak menyukai Sang.
Buaya besar
bernama Sang Tah ini mendatangi Raja Emas Habang di kerajaannya. Terjadi
perselisihan antara Raja Emas Habang dengan Buaya Sang Tah. Mereka membuat prjanjian,
Raja Emas Habang berkata “perjanjian ku adalah jika kau bisa mengalahkanku,
maka kerajaanku dan pinan akan menjadi milikmu” lalu Buaya Sang Tah menjawab
“baik, dan perjanjian ku adalah jika engkau bisa mengalahkan ku, sangkima dan
pinan akan jadi milik mu dan aku akan pergi dari sini”. Mereka sama-sama memiliki tubuh yang besar
dan kuat, pertarunga sangat hebat ini berlangsung sangat lama dan disaksikan
oleh warga kerajaan, desa, dan Pinan sendiri. Hujan sangat deras dan berangin
mengguyur mereka, tetapi tidak ada yang bisa menahan mereka walaupun hujan
deras sekali pun sampai pada akhirnya Raja Emas Habang mati dan pada saat itu
juga ketika Pinan menyaksikan kekalahan Raja, ia kabur dari tempat kejadian karena ia tidak ingin dinikahi
oleh Buaya besar Sang Tah.
bangkai Emas
Habang dikubur di tengah tengah antara desa Sangkima dan Kerajaan Emas Habang
yang kini telah dibangun monumen burung enggang di atas kuburan bangkai Raja Emas
Habang. sekarang Sang Tah menguasa kerajaan emas habang. tetapi sebagian besar Kerajaan
Emas Habang dia beri nama "Sang Tah" yang sekarang dikenal orang “Kota
Sang Tah”, lama lama orang terbiasa menyebutnya menjadi “Kota Sangatta”.
Kerajaan Emas Habang hanya sebagian
kecil dari kota Sangatta, kini istana Emas Habang tenggelam akibat diguyur
hujan sangat deras saat perkelahian mereka dan menjadi sungai kecil. Sampai sekarang buaya sang tah tinggal di dalam
kerajaan bawah sungai itu. Orang orang menyebutnya Sungai Emas Habang dan lama
lama menjadi Sungai Masabang.
Lokasi Monumen Enggang kini dinamai Jalan
Pinan. karna banyak masyarakat tinggal disini bersuku bugis maka jalan kini berubah
nama menjadi Jalan Pinang.
Konon setiap hujan deras buaya Sang Tah
keluar mencari pinan dan sungai masabang meluap. dan setiap hujan deras burung Pinan
bertengker di monumen burung Emas Habang karena rindu dengan kekasihnya.
Mitosnya setiap malam yang membawa
pasangannya ke monumen burung enggang Emas Habang ini, hubungannya akan
bertahan lama. Dan sampai sekarang masih banyak orang yang berdatangan membawa
pasangannya ke monumen burung enggang setiap malam minggu.
Saya dari suku asli Pribumi kota Sengata yaitu Suku Kutai Sengata.
BalasHapusDan tidak pernah ada dari orang2 tua kami maupun tokoh2 adat Kutai disini yang pernah bercerita seperti ini.
Cerita ini benar2 asli hanya cerita bohong yang akan membuat kesalahpahaman bagi orang2 pendatang di Sengata. Mengira ini Legenda Kota Sengata, padahal sebenarnya bukan.
Kebetulan juga saya tinggal di Pinang, sejak masih anak2, dulu hanya hutan belantara dan beberapa keluarga yang berkebun disitu termasuk keluarga kami.
BalasHapusDan patung burung yang kamu ceritakan itu dulu hanya rawa2 dekat lokasi saya biasa mancing. Setelah ditimbun dan jadi putaran jalan. Terakhir karena ada proyek pembuatan Taman, barulah dibangun Patung Burung.
Patung Burung itu baru ada kurang lebih sekitar tahun 2007 klo tidak salah ingat, setelah daerah yang tadinya rawa, kemudian ditimbun menjadi putaran jalan, disusul ide pembuatan taman.
BalasHapusDari sini makin kelihatan ini asli cerita Bohong.
Dan sudah banyak orang2 di Sengata ini yang percaya dengan cerita fiksimu ini.
Jika ingin tahu cerita2 sejarah asli maupun legenda2 asli dari kota Sengata ini, cobalah bertanya kepada orang tua dari suku Kutai disini, atau langsung kepada tokoh2 adat Kutai disini.
BalasHapusJangan mengarang cerita bohong seperti ini.